Tempat Cari Informasi Dan Inspirasi Bagi Pustakawan

4 Permasalahan Perpustakaan Indonesia

permasalahan perpustakaan di indonesia

Permasalahan perpustakaan di Indonesia memang kompleks. Anda sebagai seorang pustkawan atau yang cinta dengan dunia perpustakaan pastinya sudah tahu bahwa minat baca di Indonesia rendah. Dibandingkan dengan negara lain, kesadaran membaca Indonesia sangat memprihatinkan. 

Lantas, dalam konteks permasalahan perpustakaan di Indonesia saat ini, sebenarnya siapa yang paling bermasalah? Jawabannya relative. Tergantung dari perspektif mana yang akan diteropong. Nah, berikut beberapa permasalahan perpustakaan di Indonesia. 

4 Permasalahan Perpustakaan Di Indonesia

1. Faktor Teknologi Di Kalangan Milennial 

Tidak dapat dipungkiri jika kemajuan teknologi bagai pedang yang memiliki dua sisi mata pedang. Satu sisi dapat dioptimalkan sebagai sarana untuk mengembangkan bakat dan potensi. Sisi yang lain, perkembangan teknologi membentuk kebiasaan buruk bagi kaum millennial. 

Dampak negative penggunaan teknologi yang tidak tepat sebenarnya tidak hanya mempengaruhi satu sector. Tetapi juga banyak hal lain. Sebagai perbandingan, jika dulu anak-anak tidak mengenal teknologi. Mereka menyalurkan bakat mereka lewat permainan tradisional, berkumul bermain dengan teman sebaya atau membaca buku Bersama teman sebaya. 

Kini beda generasi dan beda zaman, tentu saja beda pula kebiasaan anak-anak. Anak-anak kini cenderung bermain teknologi. Mulai dari main Instagram, tiktok, youtube, dan banyak banget macam media social. Tanpa terasa mereka pun menghabiskan waktu berjam-jam di depan smartphone mereka. 

Alhasil, daya minat untuk membaca buku atau dating ke perpustakaan pun juga nyaris tidak ada. Ketidakmauan kalangan millennial pun tanpa sebab. Salah satu alasan klise adalah karena perpustakaan tempat yang membosankan. Karena hanya buku dan membaca buku, tidak ada daya Tarik yang ditawarkan yang tidak jauh berbeda dengan kecanggihan dan hal yang menarik bagi mereka. 

Satu sisi dari permasalahan perpustakaan di Indonesia adalah, perpustakaan dituntut untuk update agar mampu mengiringi trend kalangan millennial saat ini. Misalnya dengan membuat spot ciamik di salah satu sudut perpustakaan agar instagramable, ada koleksi gaul yang sekiranya bagi pengunjung millennial senang, dan apapun itu bentuk inovatif lainnya. 

Baca juga : Jenis-jenis Perpustakaan di Indonesia

2. Perpusatkaan Terkesan Kaku dan Kuno 

Permasalahan perpustakaan di Indonesia yang menjadi sebab sepi karena kaku dan kuno. Memang tidak semua perpustakaan seperti itu. Tetapi bagi kaum millennial masih mendefinisikan seperti itu. Dengan kata lain, pihak perpustakaan mau tidak mau harus membranding ulang bahwa perpustakaan itu menyenangkan dan asyik. 

Bagaimana carannya? Tentu saja tergantung dari masing-masing tim perpustakaan itu sendiri. Misalnya mengadakan lomba, membuat spot kece diperpustakaan yang “anak muda banget”. Salah satunya adalah perpustakaan Grhatama di Yogyakarta, dari beberapa perpustakaan yang pernah saya kunjungi, di sana tempat yang cukup menarik bagi kaum millennial dan anak-anak kecil. 

Mereka mampu merangkul dengan menawarkan banyak kegiatan dan bentuk. Misalnya mendesain tempat membaca yang santai, nyaman dan tidak terkesan seram dan kumuh. Jadi tetap bersih dan selalu dingin. Ada juga spot kece yang mau membaca di luar ruang baca dengan nyaman. Bagi anak-anak juga ada tempat bermain dan ada ruang yang khusus memutarkan animasi 2D sampai 3D, bahkan ada juga yang 6D.

Saya kira di luar sana banyak perpustakaan yang kece yang belum terekspolorasi dan hanya kurang dalam branding ke kawula muda. Ketika branding menarik tentang perupstakaan berjalan efektif, saya kira permasalahan perpustakaan di Indonesia seperti ini tidak akan menjadi masalah yang berlarut-larut. 

Baca juga : 7 Tujuan Perpustakaan Dalam Meningkatkan Kualitas SDM

3. Kurang Responsif 

Salah satu keengganan pengunjung terhadap permasalahan perpustakaan di Indonesia karena pelayanan yang kurang responsive. Saat masuk ke perpustakaan, pengunjung mungkin sudah tidak asing dengan kotak saran atau kotak kepuasan pengunjung. Atau ada angket untuk mengisi kesan pesan mengunjungi perpustakaan.

Nampaknya pula atribut tersebut hanya dianggap tidak penting bagi pengunjung. Memang banyak latarbelakang kenapa pengunjung kurang respek terhadap itu semua. Bisa jadi karena pengunjung tidak merasakan perubahan dari masukan dan kotak kepuasan pengunjung. Sehingga saat datang terkesan acuh tak acuh. Meski sepele seperti ini, ternyata ini menjadi permasalahan perpustakaan di Indonesia yang perlu ditindak. 

Permasalahan perpustakaan di Indonesia yang lain masalah responsivitas pengelola atau pustakawan yang terkesan lelet dan masa bodoh. Ketika ada keluhan, terkesan santai menanggapi dan tidak memberikan solusi. Memang sepele, tetapi cukup menganggu dan sukses membuat pengunjung malas lagi datang. 

Memang perpustakaan bukanlah seorang pedagang atau marketing yang dituntut untuk ramah dan melayani pembeli. Tetapi secara tidak langsung, sikap yang dicerminkan harus melayani dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung agar tidak kapok datang. Salah satunya responsive terhadap masukan dan tanggapan dari pengunjung. 

Baca juga : Pentingnya Perawatan Bahan Pustaka Di Perpustakaan

4. Banyak Rumah Baca Tanpa Suara 

Permasalahan perpustakaan di Indonesia memang masalah minat baca yang rendah. Angka minim terhadap minat baca inilah yang menyebabkan rumah bacapun akhirnya macet, membisu hanya ada gedungnya, tetapi tidak ada ruhnya. 

Apakah ini murni karena minat baca yang rendah? Sehingga rumah baca tanpa suara? Saya kira tidak. Ada sebab akibat yang mempengaruhi. Beberapa sebab yang sudah dituliskan di atas. Jika mau bergerak dan memperkenalkan literasi kepada kaum millennial, nyatannya masih banyak yang antusias. 

Salah satunya rekan saya, Fiki yang memiliki Rumah Baca keliling. Bersama teman-teman penggiat literasil, setiap akhir pekan ia mangkrak di Lapangan Denggung, Sleman memperkenalkan buku kepada anaka-anak yang bermain di sana. Saat saya temui di lokasi memang benar. Banyak antusias membaca buku, atau melihat buku. 

Tentu saja ini harapan kecil bahwa literasi Indonesi masih ada harapan. Permasalahan perpustakaan di Indonesia kembali lagi ke user pustakawan atau pengiat literasi.

Apakah siap dan bergerak dengan hati memperkenalkan buku kepada regenerasi? Saya lihat permasalahan perpustakaan di Indonesia hanya butuh pengiat literasi dan pustakaan yang terjun ke dalam dari hati. Bukan karena gengsi dapat pekerjaan atau bukan karena lulusan pustakawan yang dituntut bekerja di perpustakaan. 

Permasalahan perpusatkaan di Indonesia terkait minat baca rendah ini pun juga bukan salah pustakawan ataupun salah pemerintah. Tetapi juga butuh kerjasama masing-masing keluarga untuk mengaungkan pentingnya membaca.

Dengan kata lain, permasalahan perpustakaan di Indonesia khususnya di dunia literasi adalah tugas kita Bersama. Termasuk tugas para pelaku seni hiburan di televisi, yang tidak terus mempertontonkan drama alai, tetapi juga perlu drama edukasi yang menyinggung dunia literasi. 

Kita pun juga tidak bisa menuntut orang untuk ini itu. Salah satu solusi hanya bergerak dan mengubah dari diri sendiri. Nah, barangkali kamu yang membaca artikel ini pun juga tergerak untuk mengubah diri sendiri dan keluarga inti masing-masing. Semua berawal dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita.

Baca juga : 3 Elemen Penting Dalam Pemilihan Bahan Pustaka

Semoga dengan ulasan permasalahan perpustakaan di Indonesia ini memberikan pencerahan, mampu mengelitik dan menyentil. Sehingga kita bisa bergerak Bersama-sama tanpa harus menyuruh orang lain. Cukup menyuruh diri sendiri, itu sudah perubahan luar biasa yang bisa kita sumbangkan untuk literasi. (Irukawa Elisa)

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Artikel Terkait

butuh bahan pustaka?

mari kerjasama bersama kami, pengadaan mudah tanpa ribet !

teknik pengadaan buku perpustakaan