Syair Tentang Krakatau

toko buku kuliah

Krakatau, begitu kita orang Indonesia biasa menyebutnya. Sebuah gunung yang berada di Selat Sunda dan sangat melegenda di seluruh dunia. Krakatau menjadi legenda karena tragedi pada tanggal 27 Agustus 1883. Letusannya laiknya kiamat bagi dunia. Konon daya ledaknya hingga ribuan kali lipat dari daya ledak bom atom yang meratakan Hiroshima-Nagasaki (Jepang). Letusannya terdengar hingga ribuan mil, disusul gempa dan tsunami. Letusan ini sekiranya menelan korban jiwa sebanyak 36.000 jiwa. Dampak letusan yang sangat dasyat membuat mata dunia tertuju ke Selat Sunda.

Letusan Gunung Krakatau menyisakan kenangan. Mulai dari kapal uap Berow yang terseret tsunami hingga terdampar di Kali Akar, Kota Bandarlampung. Juga sebuah pelampung rambu-rambu kapal (Buoy) yang kini menjadi penanda 0 (nol) kilometer di Teluk Betung, Bandar Lampung. Kenangan akan krakatau yang membahana ini coba digali lebih dalam dan luas oleh pengarang. Ternyata masyarakat dunia tidak pernah berhenti mengagumi Krakatau . Baim itu para ilmuan, pelukis, sastrawan, penyair, puasi, fotografer, seni oertunjukkan hingga dunia pariwisata tidak habis-habianhya mengungkap kekaguman pada krakatau.

Anehnya, di Indonesia seperti tidak peduli dengan keberadaan Krakatau yang telah ditetapkan sebagai The World Heritage Site oleh Unesco tahun 1992. Hanya ada pelukis Raden Saleh dan Srihadi Sudarsono, itu pun hanya 2 lukisan saja tentang Krakatau. Sementara di dunia, Gunung Krakatau sudah dapat melahirkan seorang pelukis dunia, Frederic Edwin Church dan William Ascroft yang telah menciptakan 533 lukisan peristiwa Gunung Krakatau. Bahkan, peristiwa Gunung Krakatau ini memunculkan genre After Glow.

Krakatau begitu banyak menyimpan spirit didalamnya. Lewat kecemasan puitika dalam buku ini, penulis menandai sesuatu yang bermaksud akan bermanfaat bagi masyarakat Indonesi serta masyarakat sebuan. Melalui lantunan puitis dalam buku ini, penulis mengajak kita melihat peristiwa letusan maha dasyat dari Gunung Krakatau. Melalui tiap sajak dan bait yang diucap kita pun diajak berdoa bagi para korban dan kebaikan bagi negri ini. Melalui buku ini kita akan merasakan kedasyatan Krakatau, Indonesia.  [ Latifatur Rochimah ]

 

Referensi: Aritonang, Diro. The Song of Krakatoa.

Pondok Djawara Deepublish
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Dapatkan informasi terbaru dari kami seputar promo spesial dan event yang akan datang