Novel SIRNA (Mata Silet Babad Tanah Jawi)

Pengarang Khoeri Abdul Muid
Institusi
Kategori Buku Umum
Bidang Ilmu Bahasa dan Sastra
ISBN 978- 602-453-419-6
Ukuran 14×20 cm
Halaman
xiv, 225 hlm
Harga Rp 82500
Ketersediaan Pesan Dulu
Tahun  2017

Rp 82.500

Pembelian bisa menggunakan beberapa cara berikut ini.

Deskripsi

Bagikan

Sinopsis Novel SIRNA (Mata Silet Babad Tanah Jawi)

Novel SIRNA (Mata Silet Babad Tanah Jawi) |

Cetak biru si jabang bayi Tiguna searti filosofis nama ibunya, Nyi Trimah, dan bapaknya, Ki Guna Reksaka juga nama aslinya sendiri yang Triguna. Ia berwatak nrima dan bermanfaat dalam multi-peran. Hal ini mulai tampak sejak uji ke-Esaan Tuhan di dalam rahim yang dihadapinya dengan cerdas tapi tetap saja santun. Terlahir di Pajang. Berguru ke Sunan Kalijaga. Tapi ketika Ki Penjawi mengalahkan Arya Penangsang dan mendapat Bumi Pati, keluarga Ki Guna Reksaka diajak serta. Saat di Pati, Tiguna berguru ke Sunan Muria. Sehingga genealogi ilmunya merupakan perpaduan Sunan Kalijaga yang ulama seniman dan Sunan Muria yang seorang pendekar tasawuf lingkungan. Ia bersahabat karib seperguruan dengan Ki Mundri Pasuruan dan Anggajaya ketua siswa Pondok Rahtawu Muria. Tiga serangkai berkelindan.

Pada jaman Adipati Wasis Jayakusuma, Tiguna dianugerahi pangkat ‘Bekel Kusumatali’ (pimpinan prajurit berkuda) dan ambil bagian dalam perang Pati-Mataram I. Kemudian melanjutkan pengabdiannya ke Adipati Jayakusuma merangkap sebagai ajudan raja (Narpa Cundhaka). Kebetulan saat sedang ronda di daerah pegunungan Prawata Kendeng Utara. Ia mampir ke rumah Ki Mundri. Di ladang pinggir desa dilihatnya gadis yang sedang memetik rembayung sembari bersenandung Ilir-ilir, lagu khas pembuka pembelajaran di Muria. Rupanya gadis itu Mumpangati anak Ki Mundri. Tiguna jatuh cinta.

Tapi Mumpangati teringat kata-kata Ki Mundri saat menjawab pinangan Tembirang bocah urakan itu. Ada 7 syarat. Tawajuh ibadah, cinta anak istri tidak berubah, guyub rukun sanak wedrah (saudara), bekerja tidak ogah, memiliki rumah megah, ladang sawah, ternak melimpah-ruah. Simbol penolakan khas Jawa yang justru menginspirasi dan melecut daya juang Tiguna. Diimaninya rezeki adalah takdir yang bisa diubah dengan usaha, doa dan tawakkal.  Tak diduga. Adipati Jayakusuma menganugerahinya ‘bumi lungguh’, tanah yang katanya wasiat Ki Penjawi sebagai  adiah anumerta jasa ayahnya, Ki Guna Reksaka, prajurit pelatih kuda (Abdi Panegar). Karena atas ide orisinalnya bahwa kuda Arya Penangsang harus  dihadapkan kuda betina yang dicukur gundul ekornya. Sehingga merangsang dan tak terkendali, —yang notabene menjadi kunci kemenangan Pajang atas Jipang kala itu.
‘Bumi lungguh’ itu berupa hutan belantara aneh Bokong Semar karena bentuk penampangnya yang mirip pantat Semar dan terkenal angker. Letaknya di selatan Bengawan Silugangga, diapit sungai Guder dan Jetis.
Sehingga sempat melintas prasangka, ia dibuang bahkan dituju matinya. Tapi segera dienyahkan lantaran ia tidak bersalah. Balik justru dipandangnya sebagai modal meminang Mumpangati. Bilapun Ki Mundri mau membantunya. Dan, Ki Mundri menyanggupinya dengan catatan mendapat restu Sunan Muria. Dalam perjalanan ke Muria, Tiguna melihat kakekkakek ‘misterius’ yang terjepit batu di jurang. Ditolongnya. Dan, balas ia diberi tombak Lokuwato —perubahan fonologis kalimat ‘holqolah’ (tidak ada kekuatan selain dari Gusti Allah) — kemudian menghilang tidak terikat ruang dan waktu.

Sebagaimana pertemuan Khidir dengan Musa dan juga Syeh Malaya yang mirip perjumpaan Bima dengan Dewaruci itu. Menakjubkan! Anehnya kejadian itu tak terlihat sehingga tak diketahui Ki Mundri. Sunan Muria merestui bahkan merelakan ketua pondok Anggajaya membantunya. Maka lengkaplah daya  dukung pembukaan hutan itu. Umara, ulama. Pun dilaksanakan oleh seorang militer Tiguna, dibantu ahli tirakat Ki Mundri dan mantan berandal Anggajaya. Benar. Di bantaran sungai Jetis Tiguna dkk diganggu oleh jin kafir perempuan Borehwangi yang sok cantik merayu cinta Tiguna. Menebar bibit penyakit. Banyak anak buah Tiguna tewas. Maka terjadi pertempuran. Tombak Lokuwato beradu sakti vs selendang wasiat. Meninggalkan jejak mitos ‘Thengel’, ‘Ubel’ dan ‘Nglebur’.

Novel SIRNA (Mata Silet Babad Tanah Jawi) ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Pendidikan Deepublish.

Lihat juga kategori buku-buku yang lain:

Buku Matematika | Buku Psikologi | Buku Filsafat | Buku Agama Islam Buku Kedokteran | Buku Ilmu Komunikasi | Buku Ekonomi | Buku Sosial dan Politik | Buku Bahasa dan Sastra | Buku Sains dan Teknologi | Buku Pendidikan 

Informasi Tambahan

Berat 0.2 kg

Review

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Novel SIRNA (Mata Silet Babad Tanah Jawi)”
Tag Produk :