VOUCHER DISKON DEEPUBLISH

Pesona Candi Ijo yang Tersembunyikan

Pesona Candi Ijo yang Tersembunyikan
toko buku kuliah

Yogyakarta menyimpan banyak sejarah masa lalu yang tercermin dari temuan peninggalan-peninggalan bersejarahnya. Sebagai kota tujuan wisata, Yogyakarta menghadirkan  tempat-tempat wisata yang tak hanya menarik, tetapi juga mampu bercerita tentang kilas balik kejadian di masa lampau. Sebut saja, Candi Prambanan yang tak pernah surut pengunjung dan selalu dipenuhi wisatawan terutama di saat liburan.

Masih di kawasan yang sama, berdiri dengan megah sebuah kompleks candi yang terletak di dataran paling tinggi di Yogyakarta. Letak candi Ijo yang berada di daerah pegunungan, Dukuh Kroyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman ini menyajikan pesona wisata yang menakjubkan yang masih belum banyak terjamah oleh wisatawan. Perjalanan dapat ditempuh sekitar 14 kilometer ke sebelah timur dari Kota Yogyakarta.

Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9 Masehi pada zaman kerajaan Mataram Kuno. Situs bersejarah ini dinamai Candi Ijo oleh masyarakat sekitar dikarenakan letaknya yang berada di bukit hijau atau gumuk hijau dengan ketinggian sekitar 410 m di atas permukaan laut. Ijo dalam bahasa Jawa berarti hijau, maka masyarakat mengenalnya sebagai Candi Ijo.

Candi Ijo merupakan kompleks percandian berteras-teras yang semakin meninggi ke belakang sisi timur. Pola semacam ini berbeda dengan pola candi-candi lainnya di dataran Prambanan yang banyak berpusat di tengah. Terdapat candi utama yang dikelilingi tiga candi kecil yang dibangun untuk memuja Trimurti dalam agama hindu yakni: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Pada bagian pintu di candi utama, wisatawan akan disambut dengan pipi tangga yang berbentuk makara. Makara merupakan makhluk mitos bertubuh ikan dan berbelalai seperti gajah. Atap candi utama bertingkat-tingkat, terdiri dari tiga undakan yang semakin ke atas semakin mengecil. Dinding-dinding candi dihiasi oleh deretan pahatan berupa sulur-suluran dan gana yakni makhluk kerdil. Di dalam candi, terdapat bingkai yang didalamnya terdapat arca setengah badan menggambarkan dewa dengan berbagai posisi tangan.

H. E. Doorepaal, seorang administrator pabrik gula Sorogedug pertama kali menemukan candi ini tanpa sengaja pada tahun 1886, saat beliau sedang mencari lahan bagi penanaman tebu. Akhirnya di tahun 1887, dilakukan penggalian dan ditemukan beberapa artefak berupa lembaran emas bertulis, cincin emas, serta beberapa jenis biji-bijian. C. A. Rosemelar yang ikut melakukan penggalian juga menemukan tiga buah arca di teras, yakni arca Ganesha, arca Siwa, dan sebuah arca tanpa kepala bertangan empat.

Candi peninggalan hindu ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Karena letaknya yang tinggi, wisatawan dapat menikmati pemandangan kota Yogyakarta dari atas. Terlihat hijaunya persawahan dan deretan pegunungan yang cantik dihiasi gulungan awan putih terpampang begitu dekat menjadikan candi ini semakin menarik untuk dikunjungi.

Keindahan Candi Ijo dapat dinikmati secara gratis, karena pengunjung tidak dikenakan biaya masuk. Pengunjung hanya wajib mengisi buku tamu yang telah disediakan oleh pengurus candi. Candi Ijo dapat menjadi alternatif wisata yang dapat dikunjungi wisatawan di Yogyakarta sebagai tempat bersejarah yang edukatif yang mampu mengajak penikmatnya untuk berefleksi mengulas kembali kilas balik perjalanan sejarah di masa lalu. (Rico Praditya)

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Dapatkan informasi terbaru dari kami seputar promo spesial dan event yang akan datang