flash sale toko buku deepublish

Pengertian Hipotesis: Tujuan, Kegunaan, Jenis, Ciri dan Pengujiannya

pengertian hipotesis
toko buku kuliah

Pengertian Hipotesis: Tujuan, Kegunaan, Jenis-jenis, Ciri-ciri dan Pengujiannya – Mahasiswa tidak bisa jauh-jauh dari kegiatan ini: membuat karya tulis ilmiah. Seorang mahasiswa harus mampu berpikir secara ilmiah. Menuangkan hasil pemikiran tersebut dalam tulisan. Tentunya bukan sembarang tulisan.

Mahasiswa harus mampu menulis tulisan yang sesuai dengan penulisan karya ilmiah. Nah, dalam karya ilmiah dikenal yang namanya hipotesis. Apakah kamu pernah mendengarnya? Mahasiswa harus paham tentang pengertian hipotesis dan segala hal tentangnya.

Dalam menulis karya ilmiah, kamu harus tahu hipotesis dari penelitian. Jadi, hipotesis ini adalah praduga peneliti terhadap masalah yang akan diteliti. Namun pengertian hipotesis tidak sesederhana ini, ya.

Selain itu proses merumuskan hipotesis tidak boleh seenaknya. Apalagi tanpa dasar dan argumen yang kuat. Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai hipotesis. Kamu juga akan tahu bagaimana cara membuat hipotesis yang benar.

Pengertian Hipotesis

Kalau berdasarkan asal kata, hipotesis berasal dari bahasa Yunani yakni hupo dan thesis. Hupo adalah sementara, sedangkan thesis adalah pernyataan atau teori.

Sehingga hipotesis adalah pernyataan sementara. Inilah praduga peneliti terhadap masalah penelitian. Namun hipotesis ini bukanlah kebenaran. Karena praduga, hipotesis bisa benar dan bisa juga salah.

Misalnya, kamu akan meneliti tentang hubungan antara kebiasaan manusia buang sampah dan tingginya jumlah sampah di Indonesia. Berdasarkan data sementara yang kamu dapatkan, hipotesis yang muncul adalah kebiasaan manusia tersebut berhubungan dengan jumlah sampah. Artinya kebiasaan buruk manusia berpengaruh terhadap tingginya jumlah sampah dari waktu ke waktu.

Namun hipotesis ini masih praduga. Hipotesis tidak dapat disebut kebenaran. Meski kamu merancang hipotesis berlandaskan data yang valid dan kuat. Untuk membuktikan hipotesis ini benar atau tidak, kamu harus melakukan penelitian tersebut. Hasil penelitian akan menunjukkan apakah sesuai dengan hipotesis atau justru menghasilkan temuan baru.

Menurut Zikmund, hipotesis adalah proposisi atau dugaan yang belum terbukti. Jadi hipotesis masih bersifat tentatif. Pernyataan hipotesis hanya menjelaskan fenomena dan kemungkinan jawaban atas pertanyaan penelitian. Jawaban sesungguhnya didapatkan setelah penelitian dilakukan.

Kemudian secara singkat dan padat, Nasution menjelaskan hipotesis adalah dugaan tentang apa yang kita amati. Dugaan ini adalah bentuk upaya kita untuk memahami suatu masalah atau fenomena.

Tak juga berbeda dengan Nasution, Kerlinger menerangkan hipotesis adalah pernyataan dugaan hubungan antara dua variabel atau lebih. Jadi hipotesis selalu berbentuk kalimat pernyataan. isinya adalah penjelasan tentang hubungan variabel secara umum maupun khusus. 

Pengertian hipotesis juga dijelaskan oleh Sugiyono. Pendapat menurut Sugiyono ini termasuk pendapat yang paling sering dipakai akademisi. Hipotesis menurut Sugiyono adalah jawaban sementara dari rumusan masalah.

Dikutip dari eurekapendidikan.com, Suryabrata menjelaskan hipotesis dalam beberapa hal. secara teknis, hipotesis diartikan sebagai pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan diuji atau diteliti. Penelitian ini berdasarkan data yang diambil dari sampel penelitian. Sementara itu secara statistik, hipotesis adalah pernyataan mengenai keadaan parameter yang diuji melalui sampel statistik. 

Tak sampai di situ, Suryabrata juga menjelaskan hipotesis ditinjau dari hubungan variabel. Hipotesis adalah pernyataan tentang hubungan keterkaitan antara variabel. lantas bagaimana dengan hipotesis dan teori ilmiah?

Jadi ditinjau dari hubungan hipotesis dan teori ilmiah, hipotesis adalah deduksi dari teori ilmiah dalam penelitian kuantitatif. Sedangkan dalam penelitian kualitatif hipotesis adalah kesimpulan sementara sebagai hasil observasi untuk hasilkan teori baru.

Tujuan Hipotesis

Kamu tentu bertanya-tanya; sebenarnya apa sih kegunaan hipotesis dalam karya tulis ilmiah? Hipotesis adalah salah satu bagian penting dalam sebuah karya tulis ilmiah. Kegunaannya meliputi:

  1. Memberikan penjelasan sementara tentang gejala
  2. Memudahkan perluasan pengetahuan dalam bidang tertentu
  3. Memberikan pernyataan hubungan yang dapat diuji
  4. Memberikan arah penelitian
  5. Memberikan kerangka untuk laporan penelitian

Kegunaan Hipotesis dalam Penelitian

Dalam menulis karya tulis ilmiah, adanya hipotesis ini dapat membantu sebagai peneliti dalam hal:

  1. Memberikan batasan penelitian
  2. Memperkecil jangkauan penelitian. Sehingga tidak melebar kemana-mana
  3. Membuat penelitian tetap pada jalur penelitian yakni meneliti fakta dan hubungan variabel
  4. Memfokuskan penelitian
  5. Memandu penelitian dalam pengujian dan penyesuain antar fakta

Dari sini, kamu bisa memahami mengapa hipotesis penting dalam sebuah penelitian. Maka saat membuat penelitian, kamu harus rancang hipotesisnya. Agar penelitian tidak keluar dari jalur penelitian: menemukan jawaban atas hubungan variabel.

Jenis-jenis Hipotesis

ketika merancang sebuah hipotesis, kamu harus tahu kalau hipotesis punya banyak jenis. Jadi tidak hanya satu jenis hipotesis. Nah, kamu merancang jenis hipotesis yang mana nih?

1. Hipotesis Deskriptif

Hipotesis ini berisi dugaan sementara dari masalah deskriptif yang berhubungan dengan variabel tunggal. Sebagai contoh, peneliti ingin meneliti masalah kandungan zat berbahaya dalam makanan. Rumusan masalahnya: apakah bakso yang dijual di Pasar Sumbersari mengandung boraks? 

Penelitian ini hanya punya satu variabel yakni bakso di pasar Sumbersari. Penelitian ini bersifat deskriptif karena hanya menjelaskan apakah ada kandungan boraks di dalam bakso atau tidak. Jadi dugaan sementara ada 2 yakni bakso di Pasar Sumbersari mengandung boraks (H1) atau bakso di Pasar Sumbersari tidak mengandung boraks (H0).

2. Hipotesis Komparatif

Jenis hipotesis selanjutnya, Hipotesis Komparatif. Dugaan semenara ini berisi perbandingan antara ddua variabel penelitian. Misalnya kamu akan meneliti antara perilaku penggemar Korean Pop (K-Pop) dan perilaku penggemar Japanese Pop (J-Pop). Kamu hendak membandingkan dua perilaku penggemar tersebut. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel. Bentuk penelitiannya adalah perbandingan dua variabel tersebut.

Lantas, rumusan masalah yang muncul adalah bagaimana perilaku dua kelompok penggemar tersebut? Apakah terdapat persamaan dan perbedaan perilaku? Maka hipotesisnya adalah:
a) Penggemar K-Pop memiliki perilaku yang sama dengan perilaku penggemar J-Pop atau
b) Penggemar K-Pop memiliki perilaku yang berbeda dengan perilaku penggemar J-Pop. 

3. Hipotesis Asosiatif

Jenis Hipotesis Asosiatif yang terakhir adalah Hipotesis Asosiatif. Hipotesis ini adalah dugaan atau jawaban sementara atas hubungan dua variabel atau lebih. Jadi bila kamu meneliti hubungan (asosiasi) variabel-variabel penelitian, maka hipotesis yang digunakan adalah Hipotesis Asosiatif. 

Sebagai contoh, kamu akan meneliti tentang hubungan antara perilaku aktor negara dengan kebijakan luar negeri. Dalam penelitian ada dua variabel yani perilaku aktor negara dan kebijakan luar negeri. Sebagai peneliti, kamu ingin meneliti hubungan keduanya. Pertanyaan yang muncul: apakah perilaku aktor negara berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri?

Nah, hipotesis yang didapatkan bisa dua kemungkinan: a) Perilaku aktor negara berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri b) Perilaku aktor negara tidak berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri. Namun karena ini masih hipotesis maka kebenarannya harus ditemukan melalui serangkaian penelitian. Hasil penelitian nantinya bisa jadi mendukung hipotesis atau justru membantah hipotesis.

Ingat ya, apapun temuan atau hasil penelitian adalah benar selama metodologi penelitian juga terukur. Meski hipotesis dan hasil penelitian tidak sama, bukan berarti hasilnya salah.Perbedaan atau persamaan hipotesis dengan hasil penelitian itu wajar dan tidak ada yang jauh lebih benar. Keduanya adalah benar.

Selain tiga jenis hipotesis di atas, ada beberapa ahli yang mengemukakan ada jenis-jenis lainnya. Pada dasarnya hampir sama Tapi kamu perlu mengetahuinya juga. Agar semakin memahami jenis-jenisnya. Apa saja?

Ada dua jenis hipotesis lain yakni Hipotesis Statistik dan Hipotesis Penelitian. 

4. Hipotesis Statistik

Hipotesis Statistik adalah pernyataan matematis tentang populasi yang diteliti. Hipotesis ini dinyatakan dalam simbol-simbol matematika. Jadi pernyatan mengenai hubungan variabel digambarkan dalam simbol matematika.

Hipotesis Statistika terbagi menjadi Hipotesis Alternatif ( Ha) dan Hipotesis Nol (H0). Jenis ini serupa dengan hipotesis deskriptif. Namun terdapat perbedaan dalam penyebutan hipotesisnya. Ada dua jenis hipotesis ini yakni Hipotesis Alternatif (Ha) dan Hipotesis Nol (H0).

Hipotesis Alternatif adalah hipotesis yang menyatakan perbedaan satu variabel dengan variabel lainnya. Akan tetapi hipotesis ini juga bisa diartikan adanya hubungan satu variabel dengan variabel lainnya. 

Sedangkan Hipotesis Nol kebalikan dari Hipotesis Alternatif. Hipotesis Nol menyatakan tidak hubungan antar variabel. Hipotesis ini juga dipakai untuk menyatakan tidak ada perbedaan atau tidak pengaruh antar variabel.

Hipotesis Statistik juga dapat dibedakan menjadi Hipotesis Dua Arah dan Hipotesis Satu Arah. Contoh Hipotesis Statistik:

Ha         :  m1≠ m2 (Hipotesis dua-arah) (kurang spesifik)

Ha         :  m1 > m2 (Hipotesis satu-arah) (tepat dan spesifik)

5. Hipotesis Penelitian

Hipotesis ini disebut juga Hipotesis Substantif. mengapa? Karena hipotensi ini berisi pernyataan mengenai relasi dua variabel atau lebih. Bila kamu perhatikan, hipotesis ini sama dengan Hipotesis Asosiatif. Hipotesis ini tidak dinyatakan dalam bentuk simbol matematika tapi dalam bentuk kalimat.

Baca juga : 7 Jenis Metodologi Penelitian dan Pengertiannya

Ciri-ciri Hipotesis Yang Baik

Sebelum membahas cara membuat hipotesis, kamu harus tahu dulu ciri-ciri hipotesis yang baik. Menurut  Kerlinger, hipotesis yang baik harus memenuhi kriteria: a) Pernyataan tentang relasi antar variabel b) Mengandung implikasi yang jelas. Gunanya untuk pengujian hubungan variabel tersebut.

Lebih lengkap dan rinci, Nazir menjelaskan ada 6 ciri hipotesis yang baik. Dinukil dari eurekapenelitian.com, hipotesis yang baik adalah:

  1. Harus menyatakan hubungan antar variabel
  2. Sesuai fakta
  3. Berhubungan dengan ilmu dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
  4. Dapat diuji dengan nalar atau alat-alat statistika
  5. Dinyatakan dengan sederhana dan terbatas. Tujuannya agar menghindari kesalahpahaman pengertian
  6. Dapat menerangkan hubungan fakta-fakta dan bisa dikaitkan dengan teknik pengujian

Cara Membuat Hipotesis

Setelah mengetahui ciri hipotesis yang baik, kamu harus paham bagaimana cara merumuskan atau cara membuat hipotesis. Untuk membuat hipotesis, seorang peneliti harus menggali banyak sumber informasi. Jadi, peneliti haru punya informasi yang banyak mengenai masalah yang akan dipecahkan. Caranya dengan membaca banyak sumber literatur.

Kedua, peneliti harus mampu membaca keterangan atau informasi yang didapatkan. tak hanya itu, penelitian harus mampu menemukan benang merah antara satu informasi dengan informasi lainnya. Ketiga, peneliti harus punya kemampuan untuk menghubungkan setiap fenomena yang ditemukan dan menyesuaikannya dengan teori. 

Sumber informasi yang bisa dirujuk oleh peneliti untuk merumuskan hipotesis diantaranya:

  1. Ilmu pengetahuan mendalam yang berkaitan dengan masalah atau fenomena yang diteliti
  2. Wawasan mendalam
  3. Bacaan literatur yang valid
  4. Pengalaman individu
  5. Data empiris
  6. Analogi atau kesamaan. Bisa juga menggunakan imajinasi atas masalah atau fenomena yang hendak diteliti

Baca juga : 9 Rekomendasi Buku Metodologi Penelitian Terbaik

Pengujian Hipotesis

Kewajiban peneliti tidak cuma merumuskan hipotesis. Namun ia juga harus menguji hipotesisnya. Tujuan pengujian adalah untuk mengetahui apakah hipotesis diterima atau hipotesis ditolak. Nah, langkah-langkah pengujian hipotesis meliputi:

  1. Merumuskan hipotesis
  2. Menentukan kriteria pengujian
  3. Menentukan tingkat signifikansi dan titik kritis
  4. Melakukan pengujian
  5. Mengambil kesimpulan

Buku-Buku Referensi tentang Penelitian

Setelah membaca tentang pengertian hipotesis, apakah kamu sudah memahaminya dengan baik? Agar semakin paham, kamu bisa membaca banyak literatur yang mengulas tentang hipotesis. Sehingga kamu tidak bingung saat merumuskan hipotesis saat menulis karya tulis ilmiah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Dapatkan informasi terbaru dari kami seputar promo spesial dan event yang akan datang