Modifikasi Perilaku Melalui Dua Conditioning (Pengkondisian)

Modifikasi Perilaku Melalui Dua Conditioning (Pengkondisian)
toko buku kuliah
Bagikan

Individu masih dipandang sebagai objek studi ilmu pengetahuan yang menarik oleh ilmu Psikologi. Ketertarikan pada manusia dan perilaku-perilakunya dibuktikan lewat penemuan mengenai kemungkinan untuk membentuk dan mengontrol ulang bentuk perilaku individu yang ditentukan.

Hingga pada masanya, muncul dua percobaan menarik dari pendekatan perilaku Psikologi. Keduanya dilakukan atas dasar pertanyaan, yaitu apakah mungkin untuk membentuk perilaku yang sama sekali baru pada manusia?

Pertama dilakukan oleh Pavlov menggunakan binatang percobaan anjing. Muncul hasil yang saat itu membuat takjub para ilmuwan. Pavlov mampu menyetel anjing percobaan meneteskan air liur saat ia membunyikan bel.

Apakah ada rangsang bau ketika bel dibunyikan? Tidak. Apakah anjing melihat ada daging di sekitarnya saat itu? Tidak. Cukup dengan bel. Perilaku anjing hasil percobaan Pavlov menambah variasi perilaku baru pada hewan. Perilaku tersebut tentu saja terjadi tidak secara natural. Perlu kesabaran dan waktu panjang untuk melatihnya.

Kata kunci pada modifikasi perilaku yang dijadikan mazhab behavioral di Psikologi adalah ‘latihan’. Latihan yang diberikan inilah yang sedikit spesial. Menggunakan prinsip asssociative conditioning, anjing dibiasakan untuk disuguhkan daging setelah dibunyikan bel. Sehingga anjing itu terbiasa dengan ‘oh kalau ada bel pasti ada daging’, dan meneteslah air liurnya.

Latihan yang dicoba oleh Pavlov sifatnya temporal, akan hilang bila dalam jangka waktu tertentu Pavlov terus-menerus tidak memberikan daging setelah bel dibunyikan. Pada taraf ini, dianggap anjing bisa belajar dari lingkungan dan hasil belajarnya membentuk pola perilaku yang baru. Hal yang sama pun berlaku pada individu.

Tetapi apakah hanya sampai di situ saja proses belajar individu dari lingkungan? Apabila associative conditioning menemukan cara untuk membentuk pola perilaku baru dengan stimulus yang sebelumnya tidak ada hubungannya dengan respon perilaku yang dimaksudkan, operant conditioning mampu untuk menghilangkan perilaku yang telah ada dan memperkuat intensitas perilaku.

Berawal dari Thorndike yang merumuskan reinforcement, reward, dan punishment memiliki pengaruh terhadap keputusan performansi perilaku mendatang. Reinforcement dan reward akan memperkuat perilaku serta punishment akan mengurangi dan menghilangkan perilaku. Uniknya, pada mazhab behavioral proses kognitif dianggap tidak cukup signifikan untuk memberikan kontribusi pada perubahan perilaku. Padahal dalam opini saya, adanya konsekuensi dari perilaku sebagai penentu pola perilaku yang diterapkan oleh operant conditioning, menjadikan bagian dimana pola pikir juga ikut serta. Ketika individu mendapatkan konsekuensi, bukankah ia mempertimbangkan baik-buruk, untung-rugi dan konsekuensi tindakannya?

Oleh : Sarah Kartika Pratiwi

Mengingat ulang dari buku referensi:

Passer, M.W & Smith, R.E. 2008. Psychology: The Science of Mind and Behavior. USA: McGraw-Hill.

Pondok Djawara Deepublish
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Dapatkan informasi terbaru dari kami seputar promo spesial dan event yang akan datang