Logo toko buku deepublish

Manajemen Konflik: Pengertian, Strategi dan Contoh

strategi dan pengertian manajemen konflik
Bagikan

Pengertian Manajemen Konflik – Di dalam sebuah bisnis atau dinamika organisasi, terjadinya konflik bisnis memang hal yang sangat rawan terjadi. Mengingat bagaimana persaingan bisnis dan persaingan lainnya sangat amat ketat membuat terjadinya konflik tak bisa dihindari. Meski tak bisa dihindari, sebuah konflik bisa diatasi dengan melakukan manajemen konflik.

Manajemen konflik kemudian dipakai sebagai istilah untuk mengatur dan mengatasi dengan baik adanya konflik bisnis. Dengan adanya manajemen konflik, berbagai konflik dan bahkan masalah di dalam dunia bisnis dapat diminimalisasi dan juga dapat dicegah sebelum akhirnya merugikan pihak satu dan yang lain.

Manajemen konflik memang harus dilakukan agar dapat mengelola konflik dengan baik agar tidak menyebabkan hal negatif, antara lain adanya perpecahan, permusuhan, dan persaingan yang tidak sehat. Hal negatif tersebut biasanya juga memicu dampak yakni membuat tidak nyaman di pekerjaan sehingga produktivitas akan menurun.

Oleh sebab itu, pentingnya keterampilan manajemen konflik ini sangat baik sebagai upaya untuk mencegah dan atau mengelola dampak buruk dari terjadinya konflik di sebuah organisasi atau di dalam bisnis. Manajemen konflik selanjutnya digunakan sebagai upaya meredakan konflik dan menyatukan kembali berbagai pihak melalui berbagai solusi.

Nah, selanjutnya kita akan membahas pengertian manajemen konflik itu sendiri ya dibawah ini.

Pengertian Manajemen Konflik

Manajemen konflik berasal dari dua kata, yakni manajemen dan konflik. Istilah manajemen berasal dari bahasa Italia ‘Maneggiare’ yang berarti melatih kuda-kuda, atau secara harfiah ‘to handle’ yang artinya mengendalikan. Sementara itu, menurut kamus Inggris Indonesia, ‘management’ artinya pengolahan dan istilah ‘manager’ berarti tindakan membimbing atau memimpin.

Sedangkan dalam bahasa Cina, manajemen adalah ‘kuan lee’ yang berasal dari dua kata yaitu ‘kuan khung’ yang artinya mengawasi orang kerja, dan ‘lee chai’ yang artinya memanajemen konflik uang. Sehingga definisi manajemen di dalam manajemen konflik ini tindakan untuk mengawasi atau mengatur orang bekerja.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai sebuah tujuan. Manajemen yang juga terdapat di dalam manajemen konflik merupakan  proses penting yang menggerakkan organisasi karena tanpa manajemen yang efektif, tidak akan ada usaha yang berhasil.

Selanjutnya, pemahaman atau definisi konflik yang terdapat di dalam manajemen konflik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konflik memiliki arti percekcokan, pertentangan, atau perselisihan. Selain itu, konflik juga berarti adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang atau kelompok-kelompok.

Setiap hubungan antarpribadi mengandung adanya unsur-unsur konflik, pertentangan pendapat, atau perbedaan kepentingan. Kendati unsur konflik yang juga terdapat di dalam manajemen konflik ini selalu ada dan terdapat di dalam setiap bentuk hubungan antarpribadi atau organisasi, tetapi konflik selalu dipandang sebagai hal lumrah yang harus dicegah.

Daftar Reseller

Konflik juga bisa disebut sebagai adanya situasi tindakan salah satu pihak yang berakibat menghalangi, menghambat, atau mengganggu tindakan pihak lain yang menyebabkan kerugian. Konflik termasuk di dalam manajemen konflik ini sangat mudah terjadi di antara orang-orang yang hubungannya bukan teman, dibandingkan dengan teman atau orang terdekat.

Dari definisi konflik di dalam manajemen konflik di atas, disimpulkan bahwa konflik merupakan interaksi pertentangan antara dua pihak atau lebih. Konflik biasanya timbul pada berbagai situasi sosial, baik terjadi di dalam diri individu, antarindividu, kelompok, organisasi, maupun suatu negara.

Biasanya, konflik muncul karena adanya kesalahpahaman pada sebuah situasi sosial tentang pokok-pokok pikiran tertentu dan adanya antagonisme-antagonisme emosional yang menyebabkan ketidaksesuaian sehingga membuat perasaan marah, tidak percaya, tidak senang, takut, menentang, dan terjadinya bentrokan.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen di dalam manajemen konflik dan lainnya merupakan suatu tindakan yang berhubungan dengan usaha tertentu dan menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan.

Setelah memahami untuk apa manajemen konflik dilakukan, saat ini akan dibahas pengertian atau apa itu manajemen konflik. Seperti garis besar yang sudah sempat disampaikan di atas, manajemen konflik digunakan sebagai upaya mencegah dan mengelola dampak buruk dari adanya konflik dalam suatu bisnis atau organisasi.

Artinya, manajemen konflik merupakan proses untuk mengelola konflik dengan menyusun strategi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki konflik sehingga mendapatkan resolusi yang diinginkan. Sementara itu, dalam sudut pandang demokrasi, manajemen konflik berbicara mengenai bagaimana konflik ditangani.

Cara penanganan konflik di dalam manajemen konflik ini biasanya dilakukan secara konstruktif dan membawa pihak yang berkonflik ke dalam suatu proses yang kooperatif serta dapat merancang sistem kooperatif yang praktis untuk dapat mengelola perbedaan secara konstruktif.

Daftar Open Reseller

Akhirnya, manajemen konflik mengelola konflik dengan baik sehingga dapat membatasi berbagai aspek negatif dan bahkan mampu meningkatkan aspek positif dari terjadinya konflik di sebuah organisasi atau suatu bisnis yang berjalan.

Baca artikel : 5 Rekomendasi Buku Bisnis Terbaik

Pengertian Manajemen Konflik Menurut Para Ahli

1. Howard Ross (1933)

Menurut Ross, pengertian manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif.

Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga.

Suatu pendekatan yang berorientasi pada proses manajemen konflik menunjuk pada pola komunikasi termasuk perilaku para pelaku dan bagaimana mereka memengaruhi kepentingan dan penafsiran terhadap konflik.

2. Minnery (1980)

Minnery mengungkapkan arti dan pengertian manajemen konflik merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan yang merupakan proses.

Ebook Panduan Jadi Reseller

Menurutnya, proses manajemen konflik perencanaan merupakan bagian yang rasional dan bersifat iteratif, artinya bahwa pendekatan model manajemen konflik perencanaan terus mengalami penyempurnaan sampai mencapai model ideal.

3. Johnson dan Johnson (dalam Farida: 1996)

Menurut Johnson dan Johnson dalam Farida, seseorang yang terlibat konflik maka untuk menghadapinya seringkali digunakan religiusitas dasar manajemen konflik yakni withdrawing (menghindari), forcing (memaksa), smoothing (melunak, compromising (kompromi), dan confronting (konfrontasi).

4. Farida (1996)

Sementara itu, Farida berpendapat bahwa pengertian manajemen konflik yang biasa digunakan seseorang adalah dominasi (domination), menyerah (capitulation), menarik diri (withdrawal), negosiasi (negotiation), intervensi pihak ketiga (third party intervention).

Baca Artikel: Fungsi Manajemen Menurut Para Ahli

Fungsi Manajemen Konflik

Dilakukannya suatu manajemen konflik pasti tak lepas dari fungsi yang menyertainya. Lalu bagaimana fungsi manajemen konflik untuk menyelesaikan suatu konflik dalam sebuah organisasi atau suatu masalah?

1. Meningkatkan kinerja dan keaktifan karyawan.

Manajemen konflik ini dilakukan dengan mengeluarkan pendapat menjadi sarana yang tepat bagi para karyawan atau seseorang. Karyawan atau seseorang akan lebih aktif mengemukakan pendapat ketika terjadinya konflik.

Hal ini membuat pihak yang terlibat berdiskusi dan memikirkan solusi yang tepat. Dengan demikian, akan meningkatkan produktivitas dan kinerja karyawan atau seseorang.

2. Mengembangkan kemampuan karyawan.

Dengan adanya manajemen konflik untuk mengatasi konflik di suatu perusahaan, secara tidak langsung manajemen konflik digunakan sebagai media untuk mengasah kemampuan para karyawan untuk lebih berpikir logis, kreatif, dan rasional. Pada akhirnya, karyawan akan ikut berpikir bagaimana cara menyelesaikan konflik yang sedang terjadi.

Sehingga kemudian, kemampuan berpikir seorang karyawan akan terus berkembang dan meningkat karena sering diasah untuk dapat memberikan solusi yang tepat di dalam sebuah konflik serta lebih kreatif dalam berpikir dan tentunya akan meningkatkan skill mereka sebagai karyawan.

Baca: Contoh Soft Skill dan Hard Skill

3. Melatih kemampuan menyelesaikan konflik.

Adanya manajemen konflik yang dilakukan karena timbulnya suatu konflik sangat penting karena di dalam sebuah perusahaan, setiap konflik akan terus terjadi, mau tidak mau. Perusahaan yang pernah mengalami konflik justru akan maju dan terus berkembang.Hal ini karena adanya konflik membuat perusahaan tersebut terus ditempa.

Artinya, sebuah perusahaan yang sering mengalami konflik dan memiliki manajemen konflik yang baik sehingga mampu menyelesaikan konflik artinya perusahaan tersebut sudah terbiasa menyelesaikan konflik dengan tepat dan perusahaan tersebut akan lebih mampu bertahan karena sudah biasa menghadapi konflik dan melakukan manajemen konflik.

4. Meningkatkan rasa saling menghormati.

Dilakukannya manajemen konflik setiap ada konflik yang terjadi pasti akan memunculkan berbagai pendapat dari berbagai pihak. Pendapat yang berbeda-beda ini juga memicu adanya suatu perpecahan.

Oleh sebab itu, perbedaan pendapat mengenai bagaimana manajemen konflik pada sebuah konflik yang berlangsung merupakan tantangan tersendiri, bagaimana seseorang dapat menghormati pendapat orang lain dan tidak menjatuhkan satu sama lain. Artinya, manajemen konflik sangat berguna untuk meningkatkan rasa toleransi semua pihak.

Pentingnya Manajemen Konflik dalam Organisasi

Di dalam sebuah organisasi, manajemen konflik sangat penting untuk dikembangkan. Mengembangkan manajemen konflik memungkinkan suatu organisasi atau perusahaan tersebut mampu mengevaluasi sistem dan mengembangkan kompetensi. Maksudnya, manajemen konflik di dalam suatu organisasi ini kemudian efektif dijalankan.

1. Sistem Evaluasi

Dalam proses mengevaluasi sistem setelah melakukan manajemen konflik, diharapkan terjadinya efektivitas sistem yang berjalan dengan baik. Konflik di dalam manajemen konflik yang konstruktif akan membantu suatu organisasi atau perusahaan dalam mengidentifikasi apakah sistem yang dilakukan sudah berjalan efektif atau memerlukan perbaikan beberapa hal.

Jika sebuah konflik di suatu organisasi dapat dikelola dengan baik menggunakan manajemen konflik, maka konflik akan dapat dipecahkan secara sistematis dan akan mendapat dampak yang positif guna untuk memperkuat hubungan kerjasama, meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan harga diri.

2. Meningkatkan Kreativitas dan Produktivitas

Selain  itu, manajemen konflik yang dilakukan dengan baik pada suatu organisasi juga mampu menambah dan mengasah kreativitas, dan meningkatkan produktivitas, serta meningkatkan kepuasan pihak satu dan pihak lainnya dan akhirnya, kepuasan kerja juga ikut meningkat.

Tak bisa dipungkiri, tak semua konflik yang sudah diatasi dengan manajemen konflik bisa saja menguntungkan bagi pelaksanaan atau kelangsungan suatu organisasi. Oleh sebab itu, pimpinan suatu organisasi dituntut memiliki kemampuan manajemen konflik dan memanfaatkan konflik untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas organisasi.

Tujuan dilakukannya manajemen konflik di dalam sebuah organisasi ini untuk mencapai kinerja yang optimal serta dapat memelihara konflik dengan baik dan fungsional untuk meminimalkan akibat dari konflik yang terjadi. Manajemen konflik juga sangat berguna untuk mencapai tujuan yang diperjuangkan dan menjaga hubungan dengan pihak yang terlibat.

Oleh sebab itu, manajemen konflik dalam suatu perusahaan harus dilakukan menggunakan teknik pengendalian konflik yang baik agar dapat digunakan di berbagai situasi serta mampu menerapkan berbagai pendekatan yang membuat konflik tersebut memiliki manfaat dan dapat diselesaikan dengan baik.

Strategi Manajemen Konflik

Selain cara dan teknik terbaik melakukan manajemen konflik, melaksanakan manajemen konflik juga memerlukan strategi yang baik agar tidak salah langkah. Ada berbagai strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi konflik seperti di bawah ini.

1. Akomodatif

Akomodatif atau accommodating di dalam melaksanakan manajemen konflik ini adalah Anda sebagai pihak ketiga diharap dapat menjadi penengah terjadinya konflik dengan membuka diri untuk menerima dan menampung seluruh aspirasi, pandangan, dan pendapat dari kedua belah pihak yang terlibat konflik.

Namun, jika Anda bertindak sebagai pembuat keputusan, dengan adanya solusi yang tepat, strategi ini sangat bisa digunakan untuk menguntungkan salah satu pihak atau semua pihak secara adil.

2. Menghindari

Strategi menghindari atau avoiding di dalam manajemen konflik dilakukan sebagai langkah antisipasi yang dilakukan untuk dapat mencegah dan menghindari potensi konflik. Di sini, seseorang dituntut harus memiliki daya analisis yang tajam terhadap dinamika organisasi dan tim.

Selain itu, seseorang juga dituntut untuk mampu mengidentifikasi adanya berbagai hal yang dapat menjurus ke konflik antaranggota tim sehingga dapat mengambil kebijakan yang tepat sebelum terlanjur terjadi sebuah konflik.

3. Kolaborasi

Strategi kolaborasi atau collaborating ini mampu mengubah konflik menjadi hal yang positif. Caranya yakni dengan membiarkan semua pihak yang terlibat di dalam konflik mampu berkolaborasi. Meski demikian, strategi manajemen konflik ini hanya akan efektif bila kedua belah pihak yang memiliki konflik bisa menyepakati tujuan bersama.

4. Kompromi

Strategi manajemen konflik selanjutnya adalah kompromi, di mana proses penyelesaian konflik dilakukan dengan upaya untuk mencapai kompromi, ketika masing-masing pihak yang terlibat dapat menurunkan atau mengurangi tuntutan, kepentingan, keinginan, atau kehendak, sehingga dapat menghasilkan titik temu yang dapat diterima kedua belah pihak.

5. Kompetisi

Strategi kompetisi atau competeting untuk melaksanakan manajemen konflik ini dilakukan dengan cara membiarkan kedua belah pihak yang berkonflik untuk dapat berkompetisi secara sehat. Anda sebagai penengah atau ‘wasit’ dapat memantau dan mengawasi kedua belah pihak.

Meski dalam beberapa kasus cara ini cukup adil dan fair, namun biasanya menghasilkan solusi yakni mendapatkan pihak yang menang dan kalah.

6. Konglomerasi

Strategi konglomerasi atau conglomerating ini merupakan cara menyelesaikan konflik atau strategi manajemen konflik dengan menggabungkan beberapa strategi di atasi dengan dilakukannya sebuah kompromi.

Kompromi adalah tipe manajemen konflik yang paling umum dilakukan bukan untuk menghasilkan win-win solution, tetapi untuk memenangkan semua pihak dan tidak ada yang dirugikan.

Contoh Manajemen Konflik

Untuk mendapat gambaran bagaimana manajemen konflik telah dilaksanakan oleh berbagai perusahaan, di bawah ini akan diberikan contoh beberapa manajemen konflik yang biasanya terjadi. Konflik paling umum yang biasa terjadi di dalam sebuah perusahaan yang berfokus pada kinerja dan produktivitas dapat ditangani dengan baik.

Sehingga perusahaan atau HRD harus memahami berbagai konflik yang umum atau biasa terjadi dan cara menyelesaikan atau manajemen konflik yang tepat.

1. Konflik Kepemimpinan

Biasanya, para pemimpin diharapkan untuk dapat turun tangan demi menyelesaikan masalah atau konflik yang terjadi di suatu perusahaan tersebut. Tapi bagaimana jika para pemimpin tersebut yang membuat konflik atau menjadi pusat konflik?

Hal ini tentu tak bisa dihindari, terutama jika pimpinan tersebut kurang berpengalaman namun mendapat promosi jabatan yang terbilang cepat tapi aspek kepemimpinan dan pelatihannya kurang tepat.

Selain itu, adanya tekanan lingkungan ditambah dengan kurangnya pengalaman sangat riskan menimbulkan konflik.

Penyelesaian: HRD harus mampu menentukan, bagaimana cara memilih individu yang tepat dan memang berkompetensi untuk mengisi posisi tertentu sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Dilakukannya proses rekrutmen dan manajemen sumber daya manusia (SDM) sangat berpengaruh dalam hal ini.

Sehingga jika sudah terlanjur salah memilih, diperlukan komunikasi yang intens antara manajer, karyawan, dan HRD mengenai bagaimana cara untuk menjadi penengah dan berkompromi dengan gaya kepemimpinan mana yang seharusnya digunakan. Pastikan jenis gaya kepemimpinan ini sesuai dengan budaya tempat kerja dan nilai perusahaan.

2. Konflik Gaya Bekerja

Setiap orang pasti memiliki gaya bekerja masing-masing. Beberapa orang lebih suka bekerja di dalam suatu kelompok, sementara ada pula yang lebih suka bekerja sendirian dan melakukan pekerjaan terbaiknya.

Ada orang yang tidak memerlukan arahan ekstra untuk bekerja, ada pula yang harus dituntun atau diberi arahan di setiap langkahnya.

Adanya perbedaan gaya kerja tersebut kadang membuat adanya konflik dan juga membuat individu lain terhambat keharmonisannya dan pekerjaan timnya terganggu sehingga timbulnya miskomunikasi yang menghambat kinerja perusahaan.

Penyelesaian: Manajemen konflik yang digunakan dalam kasus ini diperlukan cara untuk memahami dan menghormati gaya kerja setiap anggota yang berbeda-beda untuk dapat bekerja dan membentuk tim kerja dengan sukses. Setiap anggota tim harus saling terbuka dan memahami serta berkompromi untuk mengolaborasikan gaya bekerja yang berbeda.

Baca Artikel Terkait Manajemen Lainnya

Baca Materi Penting Lainnya