Logo Baru April

Identifikasi Masalah: Pengertian dan Cara Membuat

identifikasi penelitian
toko buku kuliah
Bagikan

Identifikasi masalah merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti. Makanya, kita wajib tau pengertian dan cara membuat struktur identifikasi masalah yang baik.

Dalam melakukan penelitian, identifikasi masalah merupakan langkah awal yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan dan menuliskan hasil penelitiannya menjadi sebuah karya ilmiah. Identifikasi masalah ini memang tidak selalu dituliskan dalam karya ilmiah, namun menjadi bagian yang penting dalam sebuah penelitian.

Tanpa identifikasi masalah yang tepat dan matang, maka hasil penelitian dapat dengan mudah dikritik atau dipatahkan oleh penelitian dan teori lainnya. Inilah sebabnya, peneliti harus melakukan identifikasi masalah dengan benar. Untuk dapat melakukan identifikasi masalah, maka peneliti harus mengetahui apa yang dimaksud dengan identifikasi masalah secara tepat.

Baca juga: Contoh Rancangan Penelitian yang Benar

Identifikasi Masalah Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan identifikasi masalah atau problem identification. Secara sederhana, identifikasi masalah adalah cara atau upaya untuk mendefinisikan masalah, kemudian membuat definisi tadi menjadi bisa diukur, sebagai bagian dari langkah awal penelitian yang dilakukan.

Identifikasi masalah juga dapat diartikan sebagai pengenalan masalah kepada pembaca yang lebih luas, atas problematika atau masalah yang terjadi di masyarakat. Melakukan identifikasi masalah merupakan langkah penting yang harus dilakukan pertama kali, karena dengan melakukan identifikasi masalah, peneliti bisa mengetahui dengan pasti masalah apa yang terjadi, bagaimana melakukan penelitian yang tepat, serta solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Para ahli mengartikan identifikasi masalah sebagai berikut:

  1. Amien Silalahi mengartikan identifikasi masalah sebagai upaya atau cara untuk mendaftar sebanyak-banyaknya pertanyaan terhadap suatu masalah yang dianggap bisa ditemukan jawabannya, yaitu melalui penelitian yang dilakukan secara ilmiah.
  2. Suriasumantri menuliskan bahwa identifikasi masalah adalah tahap permulaan yang dilakukan dalam penguasaan masalah. Objek dalam suatu jalinan ini dapat dikenali sebagai suatu masalah, sehingga harus dicari solusinya.

Baca juga: Apa itu Desain Penelitian

Cara Membuat Identifikasi Masalah

Peneliti tidak boleh asal dalam membuat identifikasi masalah, karena identifikasi masalah harus dibuat dengan langkah yang tepat. Cara membuat identifikasi masalah yang tepat ini diperlukan agar penelitian yang dilakukan dapat mencakup berbagai hal penting dalam masalah yang diteliti.

Daftar Open Reseller

Identifikasi masalah yang dibuat harus fokus pada masalah, namun juga tetap harus memikirkan berbagai kendala yang mungkin ditemui dalam mencapai tujuan dan sasaran penelitian. Ada lima cara membuat identifikasi masalah yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Melakukan Identifikasi Masalah Secara Umum

Cara pertama dalam membuat identifikasi masalah adalah dengan melakukan identifikasi masalah secara umum. Identifikasi masalah secara umum ini dilakukan dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan umum atau secara luas mengenai permasalahan dari penelitian yang dilakukan.

Pertanyaan yang diajukan secara umum ini nantinya dapat dipersempit lagi untuk mendapatkan jawaban yang lebih fokus dan tidak terlalu luas atas masalah yang diteliti. Melakukan identifikasi masalah secara umum juga dapat membantu untuk menggali masalah dengan lebih dalam.

2. Memahami Sifat Masalah

Memahami sifat masalah adalah cara kedua dalam membuat identifikasi masalah. Dengan memahami sifat masalah secara mendalam, maka peneliti akan dapat melakukan penelitian dan mencari solusi dari permasalahan dengan lebih tepat.

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk memahami sifat masalah, misalnya seperti membaca berbagai literatur, atau melakukan berbagai diskusi. Diskusi yang dilakukan salah satunya adalah dengan pihak akar rumput atau grass root, untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari masalah yang akan diteliti.

3. Mengumpulkan Literatur

Membaca berbagai literatur menjadi cara yang bisa dilakukan untuk memahami sifat masalah. Sebelum membaca literatur, langkah yang harus dilakukan adalah mengumpulkan literatur. Cari dan kumpulkanlah literatur yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

promo 8.8

Mengumpulkan literatur akan membantu peneliti untuk mendapatkan ide-ide baru, mengetahui penelitian terkait, mempersempit masalah, hingga menentukan desain dari penelitian yang dilakukan.

4. Mengembangkan Ide-Ide

Berbagai ide baru diperlukan dalam membuat identifikasi masalah. Ide baru ini diperlukan agar penelitian yang dilakukan menghasilkan penelitian yang baru dan lain dari penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Mengembangkan ide-ide penelitian ini bisa dilakukan dengan cara melakukan diskusi untuk mendapatkan informasi baru. Diskusi bisa dilakukan dengan orang yang pernah melakukan penelitian yang sama sebelumnya.

Melakukan diskusi ini dapat membuat peneliti mendapatkan sudut pandang baru akan masalah yang akan diteliti berikutnya.

5. Menyusun Ulang Masalah Penelitian

Cara terakhir dalam membuat identifikasi masalah adalah dengan menyusun ulang masalah penelitian dengan cara membaca kembali masalah penelitian. Membaca dan menyusun ulang masalah penelitian akan membantu peneliti untuk lebih memahami masalah yang akan diangkat atau diteliti dalam penelitian yang dilakukannya.

Perbedaan Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah

Saat melakukan penelitian, kadang identifikasi masalah keliru dianggap sebagai rumusan masalah. Hal ini kemungkinan disebabkan karena saat membuat keduanya, ada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk memahaminya. Padahal sebenarnya identifikasi masalah yang dilakukan sebelum memulai penelitian itu berbeda dengan rumusan masalah.

1. Cara Melakukan

Perbedaan pertama yang bisa diketahui dari identifikasi masalah dengan rumusan masalah adalah pada langkah melakukan keduanya.

Identifikasi masalah dilakukan sebagai langkah awal dalam melakukan penelitian. Identifikasi masalah menjadi langkah awal dalam penelitian karena langkah ini akan membantu menentukan masalah apa yang akan diteliti dalam penelitian tersebut.

Sedangkan membuat rumusan masalah dilakukan setelah proses identifikasi masalah selesai. Rumusan masalah yang dibuat akan menjadi fokus penelitian dan akan menentukan arah penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

2. Isi

Identifikasi masalah dan rumusan masalah bisa berisi pertanyaan, namun isi keduanya berbeda. Dalam identifikasi masalah, pertanyaan yang dibuat berisi tentang pertanyaan atas hubungan antar variabel atau pembeda satu hal dengan hal lain dalam masalah yang ingin diteliti.

Hal ini berbeda dengan isi pertanyaan dari rumusan masalah. Rumusan masalah berisi pertanyaan penelitian, yaitu masalah yang akan menjadi pertanyaan dari masalah yang akan diteliti oleh peneliti.

3. Bentuk

Perbedaan ketiga dari identifikasi masalah dengan rumusan masalah adalah bentuknya. Identifikasi masalah berbentuk pengenalan masalah, yang bisa didapatkan dari studi literatur atau melalui diskusi yang dilakukan. Pada identifikasi masalah juga bisa berisi pertanyaan untuk membandingkan dua variabel yang berbeda dalam penelitian.

Rumusan masalah berbentuk pertanyaan, bisa lebih dari dua pertanyaan, dengan masalah yang researchable atau dapat diteliti dan dicari solusinya.

4. Tujuan

Perbedaan lain dari identifikasi masalah dan rumusan masalah adalah tujuannya. Tujuan dari identifikasi adalah mengenalkan masalah atau mengelompokkan masalah, menentukan kualitas penelitian, hingga menentukan apakah suatu masalah dapat menjadi hal yang diteliti.

Rumusan masalah memiliki tujuan yang berbeda dengan identifikasi masalah. Tujuan dari rumusan masalah adalah untuk mengarahkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, serta menemukan solusi dari masalah yang sudah ditemukan dari identifikasi masalah yang dilakukan sebelumnya.

Contoh Identifikasi Masalah

Agar lebih mengerti tentang identifikasi masalah, berikut ini adalah beberapa contoh identifikasi masalah dengan tema atau topik penelitian yang berbeda-beda:

1. Penelitian dengan Tema Manfaat E-Learning untuk Siswa SMP

Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama dua tahun memunculkan beberapa kebiasaan baru untuk berbagai hal. Salah satunya dalam pendidikan, yaitu munculnya e-learning atau pembelajaran berbasis online. Pembelajaran berbasis e-learning ini digunakan untuk mengurangi penyebaran virus COVID-19. Pembelajaran dengan sistem ini menimbulkan pro kontra di bidang pendidikan. Banyak yang menyebutkan kalau sistem pembelajaran dengan cara e-learning ini tidak efektif, namun ada juga yang mendapatkan manfaat dari sistem e-learning ini. Dari latar belakang ini, dapat disimpulkan beberapa identifikasi masalahnya, yaitu:

  • E-learning bermanfaat untuk meningkatkan prestasi siswa SMP.
  • E-learning kurang dapat memfasilitasi pembelajaran siswa SMP.
  • Siswa SMP memanfaatkan e-learning dengan baik untuk memenuhi pembelajarannya.

2. Penelitian dengan Tema Kebersihan Sungai di Sekitar Pemukiman Warga Pinggir Sungai Ciliwung

Sungai merupakan aliran air yang memberikan berbagai manfaat untuk manusia. Manusia bisa memanfaatkan aliran airnya untuk keperluan sehari-hari. Selain memanfaatkan air sungai, pinggir sungai juga berguna untuk manusia, yaitu sebagai wilayah tempat tinggal. Tidak sedikit sungai di Indonesia yang bagian pinggir atau bantarannya dimanfaatkan sebagai wilayah pemukiman warga. Salah satu contohnya adalah Sungai Ciliwung yang mengalir dari Bogor hingga bagian utara Jakarta. Sayangnya, warga yang bermukim di sekitar Sungai Ciliwung ini memengaruhi kebersihan sungainya. Berdasarkan latar belakang tersebut, identifikasi masalah yang bisa didapatkan yaitu:

  • Wilayah bantaran Sungai Ciliwung dipenuhi limbah rumah tangga dari pemukiman di sekitarnya.
  • Permasalahan sampah di Sungai Ciliwung masih menjadi masalah yang belum diselesaikan.
  • Kebersihan air di Sungai Ciliwung berdampak pada kesehatan warga.

3. Penelitian dengan Tema Dampak Full Day School untuk Siswa SD

Selama beberapa tahun terakhir, sekolah-sekolah yang ada di Indonesia sudah menerapkan sistem full-day school. Sistem full-day school ini mewajibkan siswa belajar di sekolah selama lima hari dalam seminggu, mulai dari hari Senin hingga Jumat, pukul 06.45-15.30 WIB.

Sistem full-day school ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pembelajaran yang lebih maksimal kepada siswa-siswi. Pembelajaran dengan sistem full-day school ini dianggap bisa memberikan berbagai dampak ke siswa, baik itu positif maupun negatif. Identifikasi masalah yang bisa didapatkan dari topik ini adalah:

  • Full-day school dapat membantu siswa SD dalam memahami materi lebih dalam, terutama yang akan menjalankan Ujian Nasional.
  • Sistem full-day school meningkatkan kemampuan siswa SD dalam bersosialisasi dengan teman-temannya.
  • Sistem full-day school berdampak pada hubungan antara siswa dengan orang tuanya di rumah.
  • Siswa tidak bisa menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga karena terlalu lama berada di sekolah.

Baca juga artikel penelitian yang lainnya

(Penulis: Tyas Wening)

Yusuf Abdhul

Yusuf Abdhul

Yusuf Abdhul Azis adalah seorang penulis dan sedang belajar digital marketing.

Dapatkan informasi terbaru dari kami seputar promo spesial dan event yang akan datang

Baca Juga :
Download Katalog

Ingin Kerja Sampingan dan Dapat Pendapatan Hingga Puluhan Juta per Bulan? Gabung Reseller Buku Deepublish Solusinya

hanya s.d. 17 Agustus 2022