fbpx

Kumpulan Artikel Atikel Cerdas

jurus jaga diri untuk perempuan

Jurus Jaga Diri untuk Perempuan

Jaga diri untuk perempuan – Ada kalanya kita berpikir bahwa menjadi perempuan tidaklah mudah. Suatu hari kita sedang berada di pasar dan tiba-tiba mendapat siulan

Mengambil Makna dari Surah An Nahl (Lebah)

Mengambil Makna dari Surah An Nahl (Lebah) – Dalam Al-Qur’an ada sebuah surah yang memiliki nama An Nahl, yang bila kita terjemahkan ke dalam bahasa

kelalaian yang dapat menghapus amalan

11 Kelalaian yang Dapat Menghapus Amalan

Kelalaian yang Dapat Menghapus Amalan | Tidak sedikit di antara kita yang menulis pada statusnya di FB: “Tahajjud sudah, dzikir sudah, baca al-Qur’an sudah. Sekarang

Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah? Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan meng-adzab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48) Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyatakan, “Amalan riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya). Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah.” Bagaimana Agar Aku Ikhlas ? Setan akan senantiasa menggoda dan merusak amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah: Banyak Berdoa Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa: “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad) Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan. Inilah dia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat besar dan utama, sahabat terbaik setelah Abu Bakar, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.” Menyembunyikan Amal Kebaikan Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits: “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim). Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik shalat yang dilakukan oleh seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari Muslim) Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baik shalat adalah shalat yang dilakukan di rumah kecuali shalat wajib, karena hal ini lebih melatih dan mendorong seseorang untuk ikhlas. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadush Sholihin menyatakan, “Di antara sebabnya adalah karena shalat (sunnah) yang dilakukan di rumah lebih jauh dari riya, karena sesungguhnya seseorang yang shalat (sunnah) di mesjid dilihat oleh manusia, dan terkadang di hatinya pun timbul riya, sedangkan orang yang shalat (sunnah) di rumahnya maka hal ini lebih dekat dengan keikhlasan.” Basyr bin Al Harits berkata, “Janganlah engkau beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.” Seseorang yang dia betul-betul jujur dalam keikhlasannya, ia mencintai untuk menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Maka dari itu wahai saudaraku, marilah kita berusaha untuk membiasakan diri menyembunyikan kebaikan-kebaikan kita, karena ketahuilah, hal tersebut lebih dekat dengan keikhlasan. Memandang Rendah Amal Kebaikan Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan. Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “Seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.” Takut Akan Tidak Diterimanya Amal Allah berfirman: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60) Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut (Tafsir Ibnu Katsir). Hal semakna juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Aisyah ketika beliau bertanya kepada Rasulullah tentang makna ayat di atas. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud dengan ayat, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” adalah orang yang mencuri, berzina dan meminum khamr kemudian ia takut terhadap Allah?. Maka Rasulullah pun menjawab: Tidak wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq, yang dimaksud dengan ayat itu adalah mereka yang shalat, puasa, bersedekah namun mereka takut tidak diterima oleh Allah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih) Ya saudaraku, di antara hal yang dapat membantu kita untuk ikhlas adalah ketika kita takut akan tidak diterimanya amal kebaikan kita oleh Allah. Karena sesungguhnya keikhlasan itu tidak hanya ada ketika kita sedang mengerjakan amal kebaikan, namun keikhlasan harus ada baik sebelum maupun sesudah kita melakukan amal kebaikan. Apalah artinya apabila kita ikhlas ketika beramal, namun setelah itu kita merasa hebat dan bangga karena kita telah melakukan amal tersebut. Bukankah pahala dari amal kebaikan kita tersebut akan hilang dan sia-sia? Bukankah dengan demikian amal kebaikan kita malah tidak akan diterima oleh Allah? Tidakkah kita takut akan munculnya perasaan bangga setelah kita beramal sholeh yang menyebabkan tidak diterimanya amal kita tersebut? Dan pada kenyataannya hal ini sering terjadi dalam diri kita. Sungguh amat sangat merugikan hal yang demikian itu. Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim) Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun saudaraku, janganlah engkau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah. Manakah yang akan kita pilih wahai saudaraku, dipuji manusia namun Allah mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ? Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka? Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam berkata: “Barang siapa yang berpuasa, shalat, berzikir kepada Allah, dan dia maksudkan dengan amalan-amalan tersebut untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan tersebut sama sekali, amalan-amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, bahkan hanya akan menyebabkan ia berdosa.” Yaitu amalan-amalannya tersebut tidak bermanfaat baginya, lebih-lebih bagi orang lain. Ingin Dicintai, Namun Dibenci Saudaraku, sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan karena ingin dipuji oleh manusia tidak akan mendapatkan pujian tersebut dari mereka. Bahkan sebaliknya, manusia akan mencelanya, mereka akan membencinya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memperlihat-lihatkan amalannya maka Allah akan menampakkan amalan-amalannya “ (HR. Muslim) Akan tetapi, apabila seseorang melakukan amalan ikhlas karena Allah, maka Allah dan para makhluk-Nya akan mencintainya sebagaimana firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96) Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia akan menanamkan dalam hati-hati hamba-hamba-Nya yang saleh kecintaan terhadap orang-orang yang melakukan amal-amal saleh (yaitu amalan-amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya ). (Tafsir Ibnu Katsir). Dalam sebuah hadits dinyatakan: “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata: wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah kecintaan padanya di bumi. Dan sesungguhnya apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata : wahai Jibril, sesungguhnya Aku membenci fulan, maka bencilah ia. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah membenci fulan, maka benciilah ia. Maka penduduk langit pun membencnya. Kemudian ditanamkanlah kebencian padanya di bumi.” (HR. Bukhari Muslim) Hasan Al Bashri berkata: “Ada seorang laki-laki yang berkata : ‘Demi Allah aku akan beribadah agar aku disebut-sebut karenanya’. Maka tidaklah ia dilihat kecuali ia sedang shalat, dia adalah orang yang paling pertama masuk mesjid dan yang paling terakhir keluar darinya. Ia pun melakukan hal tersebut sampai tujuh bulan lamanya. Namun, tidaklah ia melewati sekelompok orang kecuali mereka berkata: ‘Lihatlah orang yang riya ini’. Dia pun menyadari hal ini dan berkata: tidaklah aku disebut-sebut kecuali hanya dengan kejelekan, ’sungguh aku akan melakukan amalan hanya karena Allah’. Dia pun tidak menambah amalan kecuali amalan yang dulu ia kerjakan. Setelah itu, apabila ia melewati sekelompok orang mereka berkata: ’semoga Allah merahmatinya sekarang’. Kemudian Hasan al bashri pun membaca ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Tafsir Ibnu Katsir) rumus ikhlas Disusun oleh: Abu ‘Uzair Boris Tanesia Muroja’ah: Ustadz Ahmad Daniel Lc.

Arti Ikhlas dan Maknanya Menurut Islam

Arti ikhlas secara umum adalah ketika kita tidak mengharapkan balasan apapun atas apa yang kita kerjakan. Namun, setiap orang berhak memaknai arti ikhlas dengan caranya

Banyak orang sedang dalam pencarian. Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Padahal, seluruh jawaban dapat diperoleh dalam diri masing-masing, dengan cara mencapai kesadaran sejati. Pada kesadaran ini seluruh jawaban dapat diperoleh dengan mudah dan gamblang. Jalan hidup yang harus ditempuh juga dapat diketahui dengan jelas, seakan-akan peta lengkap sudah ada di tangan. Namun, hanya dengan mengalami, pengertian dan jawaban yang terdalam dapat diperoleh. "Tanpa meninggalkan rumah, orang mengetahui semua yang ada di surga dan di bumi. Tanpa mengintip dari jendela, orang akan melihat jalan surgawi. Mereka yang pergi ke luar, semakin jauh perjalanannya, semakin sedikit pengetahuannya. Karena itu, orang bijaksana melihat semuanya tanpa pergi kemana pun, melihat semuanya tanpa melihat, tidak melakukan sesuatu namun mencapai tujuannya." Lao Tzu Ungkapan diatas sebenarnya menjurus ke dua hal penting. Satu, belajar. Dua, meditasi. Berikut akan dibahas sedikit mengenai meditasi. Meditasi Dalam meditasi dibutuhkan anak tangga konsentrasi, lebih tepatnya adalah pemusatan perhatian. Dalam naskah kuno Patanjali, 3 tahapan dari meditasi adalah : 1. Dharana - konsentrasi pada suatu objek 2. Dhyana - pemusatan perhatian yang terus-menerus 3. Samadhi - penyatuan dengan Atma (pribadi tinggi) dan Shunya (Sumber dari segala sesuatu) dalam iluminasi. Dharana Dharana adalah pemusatan perhatian tanpa paksaan. Dalam hal ini, pikiran adalah faktor yang paling penting. Pikiran dapat diibaratkan bagai seorang anak yang sangat nakal, yang ketika disuruh duduk tenang akan menjadi semakin nakal dan aktif. Jadi, biarkan sajalah anak tersebut. Awasi saja anak nakal tersebut, dan setelah cukup bermain, dia akan menjadi letih dan tenang. Jadi, kata kuncinya adalah: memperhatikan pikiran untuk menjinakkan pikiran (memperhatikan apa saja yang kebetulan terpikirkan tanpa terjebak dipikiran itu sendiri. Dengan begitu pikiran itu sendiri diam, kemudian menjadi tenang). Hati Nurani Hati nurani dalam diri kita adalah satu-satunya sarana untuk menyadari kehendak-Nya dan memperoleh petunjuk-petunjuk langsung dari-Nya (tentunya melalui Al Qur'an dan Al Hadits). Dalam perjalanan spiritual, tujuan akhir adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara melakukan/memberikan kepasrahan total atas segala sesuatunya hanya kepada-Nya. Meditasi yang dilakukan adalah bagaimana kita membuka hati, memasrahkan hati, dan diri kepada Allah SWT. Meditasi akan menghubungkan kita dengan lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT. Dhyana Dhyana adalah pemusatan perhatian secara terus menerus, dilakukan setelah fase Dharanaterlewati. Pemusatan perhatian ini biasanya membutuhkan waktu. Semakin sering anda latihan, maka pemusatan perhatian menjadi dapat semakin lama. Gelombang pikiran seseorang pada tahap ini biasanya ada dalam tahap alfa (8 Hz - 12 Hz). Latihan pemusatan pikiran terus menerus suatu saat akan membawa Anda kepada keadaan meditasi, dimana pemusatan perhatian dapat dipertahankan secara terus-menerus. Pada tahap ini, ego (kesadaran fisik) Anda sudah tidak mendominasi secara total lagi. Dengan demikian, kesadaran yang lebih tinggi dapat berperan dan membuat kesadaran/pandangan Anda menjadi lebih luas. Namun, jika Anda berhasil melewati tahap Dhyana, belumlah merupakan tahap tertinggi dari meditasi. Tahap ini barulah tahap kedua. Samadhi Samadhi bergelombang teta penuh, yakni pada frekuensi otak 4 Hz - 6 Hz. Secepat anda memasuki tahap ini, tidak dibutuhkan lagi usaha apapun untuk pemusatan perhatian. Orang-orang yang telah mencapai tahap ini secepat duduk akan langsung "tertarik" ke kesadaran yang lebih tinggi. LAPISAN KESADARAN Dengan meditasi, dominasi dari pikiran fisik (ego) akan menjadi berkurang, membiarkan kesadaran yang lebih tinggi untuk mengambil bagian dalam kehidupan. Kesadaran manusia terdiri dari 3 (tiga) lapis yaitu : 1. Kesadaran Fisik (pikiran fisik) 2. Kesadaran Jiwa (pikiran bawah sadar) 3. Kesadaran Roh (pikiran super sadar) Pikiran fisik kita dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar dan pikiran super sadar. Maka berhati-hatilah dalam menonton TV dan video, karena kedua hal ini merupakan praktik hipnotis modern yang dapat mempengaruhi pikiran bawah sadar diri kita. Dari sudut spiritual, roh adalah identitas kita yang sebenarnya, sementara jiwa hanyalah perantara. Pikiran fisik atau disebut ego dan conciousness hanyalah kesadaran fisik, kesadaran yang paling dangkal yang dihasilkan oleh sekian banyak syaraf manusia yang ada dalam otak. Kesadaran ini akan hilang lenyap, saat otak berhenti berfungsi, saat seseorang manusia meninggal. IQ rendah, normal, tinggi, dan jenius merupakan produk pikiran fisik yang sedari lahir telah kita terima dari Allah tanpa dapat merubahnya. Namun, keterbatasan pikiran fisik kita sebenarnya dapat diatasi jika kita dapat mengakses kesadaran jiwa kita. Katakanlah, yang tadinya kita ber-IQ 120 (Normal), kemudian kita selalu mengolah, mempelajari, dan memanfaatkan kesadaran jiwa kita, maka IQ kita dapat meningkat drastis hingga 170. Hal ini dimungkinkan karena pikiran jiwa dapat menyimpan semua informasi tanpa batasan tempat, kapasitas ingatan, dan waktu pemrosesan. Semuanya tersimpan dalam bentuk energi murni yang disebut sel-sel selular. Kesadaran Fisik Kesadaran fisik/pikiran fisik/conciuosness adalah kesadaran yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran yang ditimbulkan atas keberadaan sel-sel otak kita. Pada tingkat kesadaran ini, kebanyakan informasi harus disimpan secara sadar. Bahkan kebanyakan informasi harus diingat beberapa kali sebelum dapat diingat dengan baik saat diperlukan. Seperti kita mengingat rumus matematika berkali-kali. Namun, saat ujian malah lupa. Pada kebanyakan orang, kesadaran ini adalah kesadaran satu-satunya yang dikenal sejak lahir hinggal meninggal. Sudah tentu kesadaran ini akan lenyap bersamaan dengan matinya tubuh fisik kita. Kesadaran Jiwa Kesadaan Jiwa/bawah sadar/subconciousness adalah kesadaran yang jauh lebih tinggi daripada kesadaran fisik. Kesadaran ini biasanya bekerja di bawah atau di luar kesadaran kita sehari-hari. Informasi-informasi bagi kesadaran jiwa disimpan secara otomatis di bawah kesadaran kita. Penyimpanan informasi pada tingkat bawah sadar jauh lebih bagus daripada di tingkat sadar. Seluruh informasi yang ada di sekitar Anda (termasuk informasi yang tidak dapat diterima oleh pancaindra) dapat diterima oleh kesadaran jiwa dan langsung tersimpan dengan baik. Kesadaran jiwa mempunyai kemampuan yang tidak terbatas. Kemampuan yang tidak terbatas ini disebabkan oleh karena informasi tidak disimpan dalam sel-sel fisik (yang mempunyai keterbatasan dan mati setiap beberapa saat). Informasi itu disimpan dalam bentuk energi murni disebut sel-sel selular. Karena kesadaran jiwa tidak dibatasi oleh batasan-batasan yang sama sebagaimana tubuh fisik kita, kesadaran jiwa dengan mudah dapat berkomunikasi dengan kesadaran jiwa orang lain. Pertukaran informasi dapat dilakukan dengan mudah tanpa batasan jarak sama sekali. Tetapi, walaupun kesadaran jiwa lebih tinggi tingkatnya daripada kesadaran fisik, kesadaran jiwa tidak lebih dari sebuah kesadaran perantara. Karena kesadaran sejati sendiri adalah kesadaran roh. Kesadaran Roh Kesadaran roh adalah identitas sejati dari setiap manusia. Tetapi sayangnya, sebagian besar orang justru belum pernah benar-benar sadar sebagai roh. Roh adalah kesadaran yang jauh lebih tinggi daripada kesadaran jiwa. Apabila jiwa hanya menyadari hal-hal yang berada di sekeliling tubuh fisik, maka roh tidaklah mempunyai batasan apapun (baik tempat, waktu, maupun dimensi). Pada banyak orang, roh dengan seluruh atrubut ke-Ilahi-annya terkurung rapat oleh ego keduniawian sampai saat kematian orang tersebut. Hal ini mengakibatkan orang-orang tersebut menyia-nyiakan kehidupannya bagi hal-hal yang semu. Marilah kita introspeksi kedalam diri dan pikiran pribadi kita masing-masing. Apakah kita sudah mampu mencapai kesadaran jiwa? bahkan kesadaran roh? Jika kita merasa belum, alangkah sangat bijaknya jika mulai detik ini kita mempelajari bagaimana caranya untuk sedikit demi sedikit memperoleh kesadaran jiwa, dan selanjutnya menguasai kesadaran roh diri kita masing-masing. Proses yang paling mudah untuk mencapai ini adalah dengan melakukan meditasi rutin setiap hari, dan tentunya dengan menyebut asma Allah SWT agar tidak menyimpang atau disimpangkan oleh kekuatan dan energi-energi negatif yang bertebaran di bumi ini. Sumber referensi: Effendi, Irmansyah. 1999. Kesadaran Jiwa: Teknik Efektif untuk Mencapai Kesadaran yang Lebih Tinggi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Manfaat Meditasi yang Jarang Orang Tahu

Manfaat Meditasi | Banyak orang sedang dalam pencarian. Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Padahal, seluruh jawaban dapat diperoleh dalam diri masing-masing, dengan cara mencapai kesadaran

Batasi Pengeluaran dan Bayarlah Hutang

Batasi Pengeluaran dan Bayarlah Hutang

“Jika pengeluaran tidak dibatas, modal akan berkurang hingga habis tak bersisa.” Hampir seluruh negara di dunia ini memiliki hutang. Sederhananya, hutang tersebut akibat dari lebih

tingkat kesuksesan

Tingkat Kesuksesan Anda = Tingkat Kemampuan Anda

Tingkat Kesuksesan Anda = Tingkat Kemampuan Anda “Untuk menonjol dalam profesi apapun, dibutuhkan bakat.” Adam Smith Di dunia ini terdapat dua sektor yang menentukan perekonomian

Pendidikan yang Perlu Anda Tahu

Pendidikan yang Perlu Anda Tahu

“Beri tahu aku dan akan aku lupakan. Tunjukkan aku dan mungkin akan kuingat. Libatkan aku dan aku akan paham.” Pepatah Tiongkok Jenjang pendidikan dasar SD,

kiat sukses ala nabi sulaiman

Kiat Sukses Hidup Ala Nabi Sulaiman AS

Kiat Sukses Hidup Ala Nabi Sulaiman AS – Berikut adalah ringkasan kiat – kiat sukses untuk mencapai kehidupan yang bahagia, berkecukupan, dan berkah menurut Nabi

Bekal Siap Bekerja

Bekal Wajib agar Siap Tempur dalam Bekerja

Kenali Kekuatan dan Potensi Diri Sebelum memulai memilih dan melakukan pekerjaan, kenali kekuatan dan potensi diri Anda terlebih dahulu, apakah Anda: 1. Thinker, orang yang