VOUCHER DISKON DEEPUBLISH

2 Tikus, 2 Kurcaci, dan Labirin Keju

toko buku kuliah

“Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui di mana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan, namun berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, di mana kita harus mencari jalan, tersesat dan bingung, sekarang dan sekali lagi kita sampai pada jalan tak berujung. Namun jika kita punya keyakinan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita, mungkin bukanlah pintu yang selalu kita inginkan, namun pintu yang akhirnya terbukti terbaik untuk kita.”

Bercerita tentang empat tokoh imajiner yang terdiri dari dua tikus: Sniff dan Scurry, serta dua kurcaci ; Hem dan Haw dimaksudkan untuk mewakili bagian dari diri kita, baik yang sederhana maupun yang rumit tanpa membedakan usia, jenis kelamin, ras dan kebangsaan. Kadang kita bertindak sebagai Sniff yang mampu mencium adanya perubahan dengan cepat, atau Scurry yang segera bergegas mengambil tindakan, atau Hem yang menolak serta mengingkari adanya perubahan karena takut perubahan akan mendatangkan sesuatu yang buruk, atau Haw yang baru mencoba beradaptasi jika ia melihat perubahan mendatangkan sesuatu yang lebih baik. Bagian diri mana pun yang kita pilih, kita mempunyai ciri yang sama, yakni kebutuhan untuk menemukan jalan dalam sebuah labirin dan sukses mengatasi perubahan yang sedang kita hadapi.

Cerita bermula ketika dalam keseharian para tikus dan kurcaci menghabiskan waktu mereka di dalam labirin untuk mencari keju. Dengan cara yang berbeda, tikus menggunakan naluri yang baik dan para kurcaci menggunakan otak yang dipenuhi berbagai dogma dan emosi. Meskipun berbeda, kurcaci dan tikus mempunyai hal yang sama. Setiap pagi mereka akan mengenakan pakaian jogging dan sepatu lari. Mereka berlomba menuju labirin untuk menemukan cheese favorit mereka. Labirin tersebut terdiri atas lorong panjang berkelok yang berisi keju yang lezat, namun demikian ada pula sudut-sudut gelap dan jalan tak bertuan yang menyesatkan.

Tikus-tikus menggunakan metode trial and error dalam mencari keju. Sama seperti tikus, para kurcaci juga menggunakan kemampuan berpikir mereka dan belajar dari pengalaman, namun mereka bergantung pada otak yang kompleks dalam mengembangkan metode. Seringkali kepercayaan dan emosi manusiawi mereka yang kuat mengambil alih dan mengaburkan cara mereka melihat suatu permasalahan hal itu menyebabkan hidup dilabirin menjadi semakin rumit dan penuh tantangan.

Singkat cerita, mereka menemukan station idaman yang berisi banyak keju yang lezat dan pergi ke sana menjadi kegiatan rutin hingga mengubah kebiasaan mereka para kurcaci dalam menemukan keju di dalam labirin. Mereka lebih sering diam di tempat itu sedangkan para tikus sudah bergegas mengantisipasi apabila keju di sana habis. Ternyata benar, di station tersebut kejunya habis dan para kurcaci menyalahkan keadaan. Sedangkan, tikus sudah menemukan station baru yang berisi keju lezat yang lainnya. Hal yang membedakan kurcaci dan tikus adalah sudut pandang dan tindakan yang diambil oleh masing-masing. Dengan sudut pandang yang berbeda, hasilnya pun berbeda pula. Cerita ini sungguh menginpirasi kita dalam mensikapi sesuatu dan merindukan perubahan yang lebih baik.

[Rachmat Kozara]

 

Referensi:

Spencer Johnson, M.D. Who Moved My Cheese: Cara Cerdas Menyiasati Perubahan Dalam Hidup dan Pekerjaan

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Dapatkan informasi terbaru dari kami seputar promo spesial dan event yang akan datang